Tulisan ini merupakan bagian terakhir dari 2 tulisan tentang memahami scope of work dalam kaitannya dengan perencanaan proyek.
Pada umumnya semua peralatan instruments (switch, indicator, transmitter) harus menjalani kalibrasi sebelum PLTU mulai dioperasikan pertama kali saat commissioning. Kita harus melihat ke dalam kontrak siapa yang bertanggung jawab melakukan kalibrasi instruments.
Dalam proses commissioning PLTU ada satu tahap yang disebut steam blowing. Tahap ini bertujuan untuk membersihkan boiler dan main steam pipe atau reheat pipe dari kotoran (debris). Kotoran sekecil apapun sangat beresiko merusak sudu-sudu turbine (turbine blades).
Kadangkala project owner menginginkan agar jumlah steam blowing ditekan seminimal mungkin untuk menghemat biaya BBM. Untuk itu sebelum proses steam blowing, boiler perlu dibersihkan terlebih dahulu dengan chemical cleaning. Jika memang hal ini dipersyaratkan dalam dokumen kontrak, maka kita perlu mengalokasikan anggaran untuk pekerjaan chemical cleaning.
Feedwater tank yang berfungsi untuk menyimpan feedwater sebelum dipompa masuk ke boiler, merupakan bagian dari paket Balance of Plant. Pengangkatan (lifting) feedwater tank ke final position biasanya juga merupakan bagian dari paket Balance of Plant, tetapi tidak demikian halnya dengan proyek PLTU Paiton 7 & 8. Pengangkatan feedwater tank ke posisinya di atas control room building dimasukkan ke dalam paket Steam Generator.

Feedwater Tank dengan deaerator tank di atasnya.
Feedwater tank lifting merupakan salah satu pekerjaan heavy lifting yang memerlukan crane berkapasitas besar. Bahkan di PLTU Paiton unit 8, pekerjaan ini terpaksa dilakukan dengan wire strand jack-up system yang memerlukan temporary steel structure cukup banyak. Hal ini terpaksa dilakukan karena delivery feedwater tank yang terlambat, sehingga akses crane sudah tertutup oleh bangunan Turbine Building.
Di dalam boiler ada suatu alat pertukaran panas (heat exchanger) yang bernama Air Heater. Air Heater ini berfungsi untuk memanaskan udara sebelum masuk ke ruang pembakaran. Ada 2 type air heater, yaitu tubular air heater banyak dipakai pada PLTU berkapasitas kecil dan jenis rotary yang lebih dipilih untuk PLTU berkapasitas besar.
PLTU Bukit Asam (Sumatra Sealatan) dan PLTU Asam Asam (Kalimantan Selatan) keduanya berkapasitas 2×65 MW dan sama-sama memakai air heater jenis tubular. Perbedaanya tube-tube air heater di PLTU Asam Asam sudah terpasang dalam bentuk modul, sehingga proses instalasi/erection air heater di lapangan sangat cepat. Sedangkan di PLTU Bukit Asam air heater dikirim ke project site benar-benar dalam kondisi terurai. Kita harus melakukan pemasangan tube-tube (tube insertion) yang jumlahnya ratusan atau bahkan ribuan di lapangan, sehingga erection air heater di Bukit Asam memakan waktu hingga beberapa bulan.
Hal yang sama juga terjadi pada condenser yang merupakan bagian dari paket Balance of Plant. Di Bukit Asam tube insertion dilakukan di project site, sementara di Asam Asam tube-tube condenser sudah terpasang di bodynya.
Di PLTU Bukit Asam dan Asam Asam fabrikasi piping boiler dilakukan di lokasi proyek. raw material pipa dikirim ke site masih dalam bentuk batangan utuh 6 mtr. Demikian pula pipe fitting (elbow, flanges) dikirim ke site dalam kondisi terpisah, belum tersambung ke pipa. Untuk itu perlu dibuat fabrication shop sementara, lengkap dengan peralatannya. satu supervisor juga ditugaskan khusus untuk mengelola pekerjaan fabrikasi.
Sementara di PLTU Paiton, piping boiler dikirim ke proyek sudah dalam keadaan pre-fabricated. Tanpa perlu fabrikasi mereka bisa langsung dipasang di posisinya.
Demikian beberapa contoh perbedaan dalam lingkup kerja/ scope of work/ division of responsibility antara satu proyek dengan proyek yang lain. Hal ini saya maksudkan untuk memperlihatkan bahwa pemahaman kontrak mutlak diperlukan sebelum kita mulai membuat rencana proyek (project planing). Tanpa pemahaman kontrak yang baik, sangat mungkin kita membuat kesalahan-kesalahan dalam perencanaan proyek.
Setiap kontrak proyek di dalamnya selalu mencantumkan klausul/bab/pasal tentang pembagian tanggung jawab antara pemilik dan kontraktor, atau antara main contractor dan sub contractor. Pembagian tanggung jawab sering disebut juga dengan division of responsibility atau scope of work.
Seorang project planer mutlak harus memahami lingkup pekerjaan yang harus dilaksanakan. Dia harus mempelajari project contract sebelum mulai membuat planing. Akan lebih bagus jika seorang project planer sudah mulai terlibat suatu proyek sejak proses bidding/tender, karena akan membuat dia benar-benar memahami detail proyek yang akan dilaksanakannya.
Berikut ini adalah pembagian tanggung jawab paling umum antara main contractor dan sub contractor yang saya jumpai selama 10 tahun bekerja pada proyek konstruksi PLTU.
Main contractor mensuplai semua peralatan yang harus dipasang, spesifikasi, gambar kerja, prosedur pemasangan mesin-mesin PLTU, testing procedure dan menyediakan lahan untuk pembangunan temporary facilities di area proyek.
Sub contractor menyediakan tenaga kerja, peralatan & perlengkapan kerja, peralatan kantor, heavy equipment, consumable, temporary facilities, tranportasi dan akomodasi staff & karyawan sub contractor.

PLTU Paiton, Jawa Timur
Beberapa hal berikut perlu mendapat perhatian khusus, karena seringkali ada perbedaan antara satu proyek PLTU dengan proyek PLTU yang lain.
Setiap system yang ada di PLTU harus menjalani conformity test setelah semua bagiannya terpasang dengan baik. Conformity test ini dimaksudkan agar PLTU mampu beroperasi menghasilkan listrik dengan input dan output yang telah ditentukan dalam tahap design engineering.
Conformity test yang paling utama/besar adalah boiler hydrostatic test, di mana pressure parts (economizers, evaporators, steam drum, roof & backpass dan superheaters) diberi uji tekanan air tertentu dan ditahan selama waktu tertentu tanpa diperbolehkan ada kebocoran sama sekali.
Untuk melaksanakan boiler hydrostatic test diperlukan demineralized water (air yang sudah dihilangkan kandungan mineralnya/air murni). Jika proyek yang sedang dilaksanakan merupakan perluasan dari existing plant, maka demin water bisa diambil dari plant yang sudah beroperasi. Tetapi jika existing plant tidak ada, maka perlu dilakukan produksi demin water dengan peralatan sementara. Perlu dilihat di dalam kontrak, siapa yang bertanggung jawab untuk menyediakan alat produksi demin water.
Dari beberapa kali penugasan ke proyek PLTU, hanya di Asam Asam saya menemui spesifikasi/prosedur yang menyebutkan bahwa semua air & flue gas ducting harus menjalani air leak test. Sementara di proyek yang lain cukup dengan ultra probe test. Air leak test adalah memberikan tekanan udara pada suatu ruangan, untuk mengetahui tingkat kebocoran yang ada. Nilai kebocoran yang diijinkan sudah ditentukan dalam spesifikasi.
Air leak test pada boiler ducting memiliki kesulitan cukup tinggi dan memerlukan biaya ekstra untuk membuat temporary blank plates. Kesulitan yang paling umum dijumpai adalah mencegah kebocoran pada damper dan sliding gates area. Akan lebih baik jika pada saat negosiasi kontrak, kita menyarankan untuk melakukan ducting conformity test dengan metode selain air leak test.
Pembahasan tentang kasus-kasus perbedaan scope of work/ division of resposibility saya lanjutkan dalam Cara Membuat Rencana Proyek (Project Planing) : Perbedaan Lingkup Kerja dan Pengaruhnya Terhadap Anggaran Proyek.
Memahami work breakdown structure (WBS) dan lingkup pekerjaan adalah langkah pertama dalam menyusun rencana proyek. Pembahasan yang akan saya lakukan dalam beberapa artikel secara bersambung, saya khususkan untuk proyek konstruksi, lebih khusus lagi proyek konstruksi mekanikal Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). Hal ini hanya karena pengalaman saya selama 10 tahun, hampir semuanya dalam proyek mechanical erection PLTU.
Dalam pembangunan PLTU pemilik (owner) proyek, dengan didampingi konsultan, menyerahkan pekerjaan pembangunan kepada kontraktor EPC (engineering, procurement & construction). Kontraktor EPC ini melaksanakan seluruh pekerjaan design engineering, pengadaan (procurement) material dan alat-alat PLTU, dan pemasangannya hingga pembangkit bersangkutan siap beroperasi menghasilkan listrik.
Agar pembangkit mampu beroperasi sesuai kebutuhan pemilik proyek, maka kontraktor EPC harus membuat desain PLTU sesuai dengan parameter input dan parameter output yang telah ditentukan pemilik.
Proyek pembangunan PLTU biasanya dibagi menjadi beberapa paket. Setiap paket diberikan kepada satu kontraktor EPC. Sebagai contoh, dalam proyek PLTU Banjarmasin (Asam Asam) unit-1 & 2 berkapasitas 2×65 MW terdapat 6 paket proyek, yaitu =
- Paket 1A : Site Preparation
- Paket 1B : Civil Works
- Paket 2A : Steam Generators
- Paket 2B : Coal & Ash Handling
- Paket 3 : Turbine Generator & Balance of Plant
- Paket 4 : Electrical & Control
Semakin besar ukuran proyek, biasanya semakin banyak pembagian paketnya. Jumlah paket proyek kadangkala juga tergantung dari sumber pendanaan proyek.
Sering sekali kontrak EPC diberikan kepada kontraktor asing, terutama untuk pekerjaan mekanikal, elektrikal dan kontrol. Kemudian kontraktor asing tersebut menggandeng perusahaan lokal sebagai sub kontraktor atau mitra joint operation, untuk menangani pekerjaan construction/installation.
Hal-hal yang harus dipersiapkan dalam perencanaan proyek mechanical erection PLTU adalah =
- Rencana organisasi
- Rencana fasilitas proyek (temporary facilities)
- Project schedule dan progress planing
- Manpower loading
- Equipment loading
- Anggaran proyek (project budget)
- Prosedur heavy-lifting
- Quality Plan
- Safety Plan
Untuk dapat membuat rencana proyek dengan baik, mutlak diperlukan pemahaman terhadap lingkup pekerjaan (scope of work) yang ada di dalam kontrak. Oleh karena itu sebelum mulai membuat rencana kita harus mempelajari dokumen kontrak dengan seksama.
Dalam manajemen proyek, kita mengenal istilah Work Breakdown Structure (WBS). WBS adalah diagram pohon yang dipakai sebagai alat bantu untuk memecah pekerjaan besar menjadi sub-sub pekerjaan yang lebih kecil. Dalam Work Breakdown Structure dikenal istilah WBS level 1, level 2, level 3, dst. Semakin dalam level WBS, semakin detail rincian pekerjaannya.
WBS system diciptakan untuk mempermudah proses penyusunan rencana proyek. Setiap detail pekerjaan dibuatkan planingnya masing-masing, kemudian detail planing tersebut dikonsolidasi menjadi planing untuk keseluruhan proyek. Jadi penyusunan rencana proyek pada umumnya dilakukan secara bottom up, dimulai dari yang detail (bottom) kemudian digabungkan menjadi overall project planing.
Berikut adalah contoh Work Breakdown Structure untuk sebuah proyek pembangunan PLTU :

WBS sangat bermanfaat pada saat menyusun jadwal proyek, membuat progress planing, manpower planing dan equipment loading. Pembahasan lebih detail tentang hal ini akan saya lakukan dalaam artikel tentang cara membuat jadwal dan menghitung progres proyek.
Pembakaran batu bara di dalam furnace meninggalkan sisa berupa abu batu bara. Abu tersebut menempel pada elemen-elemen superheater dan permukaan water wall panel. Lapisan abu yang semakin tebal akan mengurangi efisiensi pembakaran.
Oleh karena itu perlu dilakukan pembersihan secara rutin dengan mempergunakan alat yang bernama sootblower. Pembersihan elemen-elemen superheaters mempergunakan steam sootblower, sedangkan water sootblower dipergunakan untuk membersihkan water wall panel.
Coal and Ash Handling adalah bagian tak terpisahkan dari PLTU. Peralatan paling dominan dari coal handling system ini adalah belt conveyor. Conveyor tersebut berfungsi untuk mengangkut batu bara dari unloader port ke coal storage yard, dan dari storage yard ke boiler house.
Sementara dalam ash handling system, pengangkutan debu batu bara dilakukan melalui sistem perpipaan dibantu dengan udara bertekanan. Bisa juga dilakukan secara manual menggunakan dump truck.
System terakhir dari PLTU yang akan saya tulis adalah Balance of Plant. Balance of Plant ini terdiri dari beberapa sub sistem, di mana yang paling penting adalah =
- Condenser system
- Feedwater system
- Water Treatment Plant
- Cooling Tower
Setelah selesai memutar turbine, uap dibuang ke condenser yang posisinya tepat berada di bawah LP Turbine. Di dalam condenser uap tersebut diubah menjadi air untuk dipompakan kembali ke dalam boiler.
Condenser memerlukan air pendingin untk mengubah uap menjadi air. Beberapa PLTU memanfaatkan air laut sebagai pendingin condenser, sementara PLTU yang lain mempergunakan cooling tower untuk mendinginkan air condenser yang diputar terus menerus dalam sistem tertutup (closed loop).
Condenser system terdiri dari beberapa peralatan utama, yaitu condenser itu sendiri, condenser tube cleaning system, condenser vaccum system dan condensate pump. Condenser vaccum system berfungsi untuk menjaga agar tekanan di dalam condenser selalu lebih kecil dari tekanan atmosfer. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan plant efficiency dari PLTU.
Water Treatment plant berfungsi untuk memproduksi semua kebutuhan air bagi operasional PLTU. Pada dasarnya ada 2 jenis air yang dibutuhkan PLTU. Yang pertama adalah demineralized water (demin water) untuk mensuplai boiler dalam memproduksi uap penggerak turbin. Disebut demineralized water karena air tersebut sudah dihilangkan kandungan mineralnya.
Yang kedua adalah raw water yang diperlukan untuk pendingin (cooling water) bagi mesin-mesin PLTU dan untuk dipergunakan sebagai service water.
Secara umum water treatment system PLTU terdiri dari desalination plant untuk memproses air laut atau air payau menjadi raw water, demineralized plant untuk memproduksi demin water dan tanki-tanki atau kolam penyimpanan air.
Sebagaimana saya tulis di muka, uap yang meninggalkan turbin masuk ke condenser untuk diubah kembali menjadi air. Air tersebut dipompa kembali masuk ke boiler untuk diproses menjadi superheated steam yang siap memutar turbin.
Jadi di sini terjadi closed-loop system. Air dan uap diolah terus menerus dalam sistem tertutup untuk menggerakkan turbin uap (steam turbine). Meskipun demikian tetap ada air atau uap yang hilang sebagai system loses dalam proses tersebut. Maka selama PLTU beroperasi selalu diperlukan penambahan demin water baru secara kontinyu.
Air yang dipompa masuk kembali ke dalam boiler biasa dikenal dengan nama boiler feedwater. Sistem yang mensuplai feedwater ini terdiri dari beberapa peralatan utama, yaitu :
- Feedwater pumps
- Feedwater tank yang dilengkapi dengan deaerator tank
- Feedwater heaters
Feedwater tank berfungsi untuk menampung feedwater sebelum dipompa masuk ke boiler oleh feedwater pumps. Pada PLTU berkapasitas kecil, pompa feedwater digerakkan oleh motor listrik, sedangkan pada PLTU berkapasitas besar mempergunakan turbin uap mini.
Untuk meningkatkan efisiensi PLTU, sebelum dipompa masuk ke boiler, feedwater harus dipanaskan terlebih dahulu hingga mencapai suhu tertentu. Pemanasan tersebut dilakukan dengan heater (heat exchanger), yang berlangsung secara konduksi dengan memanfaatkan uap panas yang diambil (diektraksi) dari turbin. Jadi selain diteruskan ke condenser, ada sejumlah kecil uap dari turbin yang diambil untuk memanaskan feedwater heater.

Trotoar di Singapore : Sangat Nyaman untuk Pejalan Kaki
Beberapa hari lalu saya membaca berita tentang rencana Dinas Pariwisata Jogja untuk menggelar Hogja Heritage Walk 2010 yang akan dipusatkan di Prambanan dan Borobudur. Yang menarik dalam berita tersebut adalah ucapan Kepala Dinas Pariwisata DIY : “Wisata jalan kaki selama ini banyak diminati masyarakat Jepang dan China. Mereka ternyata memiliki rahasia yang selama ini tidak banyak diketahui publik, bahwa dengan memperbanyak jalan kaki, orang tidak hanya memiliki kebugaran tubuh yang prima, tetapi juga kerja otak menjadi aktif.”
Benar sekali, berjalan kaki adalah salah satu kegemaran wisatawan. Bukan hanya wisatawan Jepang dan China, tetapi hampir semua wisatawan dari seluruh penjuru dunia. Hanya wisatawan dengan tujuan bisnis yang lebih memilih taxi. Saya pernah berbincang dengan beberapa wisatawan Eropa, rata-rata mereka mengatakan bahwa cara yang paling mereka sukai untuk menikmati obyek wisata adalah dengan berjalan kaki.
Maka salah satu cara untuk membuat wisatawan betah tinggal di Yogyakarta adalah dengan membuat Jogja menjadi kota yang ramah bagi pejalan kaki. Belajar dari Singapore, mereka banyak memiliki trotoar yang cukup lebar dan rindang. Mereka juga mampu membebaskan trotoar-trotoar dari pedagang kaki lima dan parkir kendaraan bermotor. Memang tidak mudah mengubah Jogja menjadi seperti Singapore, tetapi juga bukan suatu hal yang mustahil.
Selain ramah untuk pejalan kaki, Singapore juga dikenal sebagai kota taman.Dengan mudah kita akan menemukan taman-taman kota yang indah dan terawat di seluruh penjuru wilayahnya. Taman merupakan salah satu tempat favorit warga Singapore untuk bersantai dan bersosialisasi. Pemerintah sangat serius mengelola taman-taman tersebut sehingga mereka membentuk badan khusus yang bernama National Parks Board. Mereka juga tidak kalah seriusnya dalam menjual karena menyadari taman dan hutan kota adalah salah satu daya tarik Singapore. Situs resmi mereka di www.nparks.gov.sg memperlihatkan hal tersebut.
Karena jam kantor di Singapore selesai pada pukul 17.00 dan matahari baru terbenam kira-kira pukul 19.00, sering sekali saya meluangkan waktu menjelang senja untuk bersantai dan berolah raga di taman dekat penginapan tempat saya tinggal. Sebelum pukul 18.00 biasanya saya sudah tiba di penginapan, sementara untuk menuju taman terdekat hanya perlu waktu 10 menit berjalan kaki. Sungguh kenikmatan hidup yang masih susah didapatkan di Jogja.
Satu hal lagi yang kelihatannya remeh, tetapi bisa cukup mengganggu kenikmatan berwisata adalah kurangnya fasilitas toilet yang bersih. Satu hal yang cukup umum kita temui di obyek-obyek wisata di Jogja dan sekitarnya adalah repotnya mendapatkan toilet yang nyaman untuk buang air. Sungguh tidak nyaman rasanya menikmati panorama alam atau keindahan kota sambil menahan rasa ingin buang air.
Berkaca dari Singapore, kelihatannya mereka sangat menyadari arti penting kamar kecil ini bagi wisatawan asing. Sangat mudah untuk menem tukan toilet yang terawat baik di negeri Singa tersebut, sekalipun kita sedang berada di taman umum.
Memang tidak mudah untuk mewujudkan Jogja sebagai kota yang nyaman untuk wisatawan. Tetapi dengan komitmen dan kerja keras dari pemerintah dan seluruh warga, tidak ada hal yang tidak mungkin.